Konsepsmart city dipopulerkan oleh Sam Palmisano pada 2008 yang saat itu menjabat sebagai CEO IBM. Smart city adalah konsep tata kelola kota yang terintegrasi dengan sistem teknologi informasi dan komunikasi, demi meningkatkan efisiensi operasional, memperbaiki pelayanan pada warga, hingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Konsep tersebut kemudian diinisiasi di Indonesia oleh Suhono S. Supangkat, Guru Besar dari Institut Teknologi Bandung. Ia menyatakan ada tujuh komponen yang mendukung smart city, yaitu:

  • smart economy,
  • smart people,
  • smart governance,
  • smart government,
  • smart mobility,
  • smart environment, dan
  • smart living.

Di Jakarta sendiri, program Jakarta Smart City (JSC) telah diinisiasi sejak Desember 2014 lalu. Dikutip dari situs resminya, misi JSC adalah mewujudkan Jakarta baru yang informatif, transparan, serta mendukung kolaborasi menggunakan teknologi untuk pelayanan publik lebih baik.

Setelah lebih dari empat tahun sejak didirikan, JSC telah bekerja sama dengan beberapa startuplokal untuk menghadirkan berbagai layanan dan inovasi demi pelayanan publik yang lebih baik.

Memanfaatkan teknologi untuk wujudkandata-driven policy

jakarta smart city | image 1

Jakarta Smart City Lounge di Gedung Balai Kota DKI Jakarta

JSC mengategorikan Jakarta saat ini sedang berada di tahap transisi untuk menjadi smart cityyang ideal. Ibu kota Indonesia memiliki karakter berbeda dari kota warisan (legacy city)dengan populasi stabil dan infrastruktur matang, seperti London atau New York, ataupun dengan kota baru (new city) yang dikembangkan dengan perencanaan kompleks seperti Dubai.

Dengan karakter berbeda ini, tidak semua solusi yang tersedia di luar negeri bisa diadopsi begitu saja ke Indonesia, khususnya Jakarta. Butuh solusi-solusi lokal untuk menyelesaikan masalah lokal. Itu sebabnya, JSC sangat terbuka dengan berbagai inovasi yang ditawarkan oleh beberapa startup lokal.

Alex Siahaan, Kepala Satuan Pelaksana Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Jakarta Smart City, menilai yang paling memahami kebutuhan Indonesia saat ini adalah para pemain lokal itu.

Kita memberikan mereka ruang sebagai playground, untuk mengkaji analyticsyang sesuai sasaran kebutuhan kota.

Alex Siahaan,Kepala Satuan Pelaksana Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Jakarta Smart City

Meski konsep smart city sendiri lekat dengan teknologi, namun sejatinya kehadiran teknologi bukanlah sebagai solusi akhir dari berbagai permasalahan. Teknologi hanyalah sarana yang bisa digunakan pemerintah untuk menghimpun serta mengelola data, sehingga bisa menghasilkan keputusan secara tepat dan cepat.

Challengesebuah kota dapat dilakukan dengan kolaborasi, ke depannya harus ada data-driven policy, karena adanya keterbatasan manusia, AI (artificial intellegence) dapat membantu mengoptimalkan kinerja yang lebih efisien dan efektif.”

Saat ini, JSC telah menggunakan beberapa teknologi untuk membantu pemerintah mengelola ibu kota. Salah satunya adalah memasang CCTV di lebih dari 7.600 titik di Jakarta. Selain bisa diakses secara onlineoleh siapa pun, CCTV juga membantu pemerintah dalam menyajikan data real-timearus lalu lintas, parkir liar, hingga volume sampah di sungai-sungai.

Tersedia juga lebih dari 1.600 bank sampah di seluruh Jakarta untuk memenuhi kapasitas limbah Jakarta yang setiap harinya bisa mencapai 7.200 ton. Kehadiran bank sampah ini juga salah satu bentuk JSC dalam membentuk kedisiplinan warga untuk memilah dan membuang sampah pada tempatnya.

Ada juga aplikasi Citizen Relationship Manager (CRM). Aplikasi tersebut membantu aparatur pemerintahan provinsi DKI Jakarta dalam menampung dan menindaklanjuti aduan warga.

Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Pemerintah Provinsi (Diskominfotik) DKI Jakarta telah menganggarkan dana APBD 2019 sebesar Rp10,98 miliar untuk pengembangan aplikasi JSC, dan Rp76,25 miliar untuk pengembangan infrastruktur. Sementara untuk penelitian dan pengembangan program JSC pun juga telah dianggarkan sebesar Rp5,15 miliar.

Kolaborasi berbagai pihak jadi kunci

Dalam pelaksanaannya, JSC kerap berkolaborasi dengan berbagai startupdan perusahaan berbagai skala demi menghadirkan layanan yang solutif dan efisien. Beberapa di antaranya adalah Qlue, Trafi, Waze, dan Nodeflux.

Sebagai salah satu startupyang telah bekerja sama sejak JSC dimulai, Qlue merasa inisiatif pemerintah menggandeng startuplokal dalam mengatasi permasalahan di Jakarta merupakan langkah yang bijak.

“Gagasan untuk berkolaborasi dan menginisiasi Jakarta Smart City hadir di tahun 2014, padahal kala itu konsep ini masih sangat asing. Ide itu terbilang jenius, dan rasanya perlu segera ditiru oleh kota-kota lain di Indonesia”, jelas Rama Raditya, CEO dari Qlue

Ada beberapa solusi dari Qlue yang digunakan JSC dalam mengelola kota Jakarta. Di antaranya menyediakan platform pengaduan masyarakat, manajemen tenaga kerja, hingga visualisasi data agar lebih mudah ditindaklanjuti.

Hasilnya pun positif. Pada kuartal pertama 2019, Qlue mengaku telah menerima 33.000 aduan dari masyarakat Jakarta. Dari seluruh aduan itu, 90 persen langsung ditanggapi oleh pemerintah dalam waktu kurang dari 24 jam.

jakarta smart city | image 2

Diskusi panel di acara Nodeflux Beyond

Respons positif juga hadir dari Meidy Fitranto, CEO dari Nodeflux. Berdasar pengalamannya, kolaborasi yang dijalin antara perusahaannya dengan JSC berjalan cukup apik. JSC memiliki inisiatif tinggi dalam memetakan permasalahan dan solusi yang dibutuhkan Jakarta, sehingga Nodeflux bisa mengembangkan layanan mereka menjadi lebih solutif dan tepat guna.

“Banyak solusi yang datang dari mereka juga. Mereka bantu mencari valueyang riil dan bisa lebih dirasakan oleh kota. Dari situ bisa muncul solusi yang benefit-nya lebih besar,” ujar Meidy.

Tak hanya bermanfaat bagi JSC, Meidy juga merasa kolaborasi semacam ini sangat dibutuhkan oleh startuplokal. Karena selain bermanfaat dalam hal bisnis, mereka juga jadi bisa memiliki dampak sosial bagi masyarakat.

Untuk kita (Nodeflux) bukan cuma bisnis saja, tapi creating valuedan solving problemjuga. Jadi bentuknya kolaborasi, bukan semacam pedagang jual-beli saja.

Meidy Fitranto,CEO Nodeflux

Sebagai perusahaan teknologi yang fokus di intelligent video analytics, Nodeflux membantu JSC dengan menghadirkan beberapa layanan sepertitraffic measurement dan juga water level monitoring. Kerja sama yang dijalin JSC dengan beberapa startuplokal seperti Nodeflux dan Qlue telah membantu Jakarta masuk dalam daftar Top 50 Smart City di duniapada 2018.

Menuju smart citydi tahun 2025

jakarta smart city | image 3

Meski telah banyak inisiatif dan inovasi dari JSC, namun Jakarta belum bisa sepenuhnya dianggap sebagai smart cityyang ideal. Masih ada beberapa tantangan yang perlu dijawab, terutama soal infrastruktur.

Hal tersebut diamini oleh Meidy. Ia menilai, dalam hal infrastruktur, Jakarta memang sedikit tertinggal dengan kota-kota besar dunia lainnya. Dampaknya, tentu inovasi dan teknologi yang bisa digunakan masih terbatas.

“Kalau di Singapura, Cina, atau mungkin London, kita bisa ketemu satu tiang dengan CCTV ke delapan arah mata angin. Jadi dalam setiap berapa meter ada CCTV dengan angleyang berbeda-beda. Jadi coverage-nyaluas.”

Namun Meidy meyakini pelan-pelan infrastruktur di Jakarta akan semakin matang. Ketika infrastruktur semakin siap, teknologi dan inovasi yang hadir untuk membantu mengelola kota Jakarta juga akan semakin bermunculan.

Optimisme yang sama juga muncul dari Rama. Ia menilai pembangunan infrastruktur yang terus dikerjakan serta iklim inovasi yang ada di Jakarta menjadi kunci percepatan adopsi smart citydi Jakarta. “Saya percaya dalam lima tahun Jakarta akan punya breakthrough innovation untuk setiap indikator (smart city), setara dengan Cina,” lanjutnya.

SC menargetkan Jakarta bisa menjadismart cityyang ideal sebelum tahun 2025. Untuk mencapai itu, pemerintah juga telah menyiapkan beberapa strategi. Termasuk mengubah status kelembagaan JSC.

Menurut Kepala Diskominfotik DKI Jakarta, Atika Nur Rahmania, tahun 2020 nanti status kelembagaan JSC akan ditingkatkan menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Dengan begitu, JSC akan lebih leluasa. Mereka bisa sepenuhnya mengatur keuangan tanpa harus bergantung pada APBD, serta memiliki kewenangan untuk bekerja sama dengan beragam pihak demi meningkatkan layanan.

“BLUD itu kan bisa bekerja sama dengan pihak lain. Kita bisa mengembangkan ekosistem dengan startup, pakai application programming interface(API) kita. Ada sejenis linkyang kita berikan sebagai exercisekepada startupsupaya lebih berkembang,” jelas Atika.

Di tahun pertama menjadi BLUD, JSC membutuhkan biaya sebesar Rp187,6 miliar. Dana itu akan digunakan untuk pengadaan infrastruktur TIK sebesar Rp150 miliar, pemasaran sebesar Rp17 miliar, upah pegawai Rp12 miliar, pengembangan dan implementasi sistem sebesar Rp5 miliar, dan biaya operasional sebesar Rp3,6 miliar.